OJK

OJK Menilai Industri Keuangan DIY Tunjukkan Ketahanan Sepanjang Tahun 2025

OJK Menilai Industri Keuangan DIY Tunjukkan Ketahanan Sepanjang Tahun 2025
OJK Menilai Industri Keuangan DIY Tunjukkan Ketahanan Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Kinerja industri jasa keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan kondisi yang relatif solid hingga akhir 2025. 

Pertumbuhan tercatat positif dengan tingkat likuiditas yang memadai. Profil risiko sektor keuangan juga dinilai tetap terjaga.

Ketahanan ini mencerminkan kemampuan sektor keuangan daerah menghadapi dinamika ekonomi nasional. Aktivitas intermediasi berjalan tanpa tekanan berarti. Kondisi tersebut memberikan sinyal stabilitas bagi pelaku ekonomi lokal.

Otoritas setempat mencatat bahwa sektor perbankan masih menjadi penopang utama. Pergerakan dana dan pembiayaan berlangsung seimbang. Hal ini memperkuat fondasi keuangan daerah.

Perkembangan Aset dan Dana Masyarakat

Aset perbankan di DIY hingga Oktober 2025 mencapai Rp115,3 triliun. Angka tersebut tumbuh 3,48 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan ekspansi yang tetap terjaga.

Dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan juga mencatatkan kenaikan. Total DPK mencapai Rp96,181 triliun dengan pertumbuhan 4,63 persen. Peningkatan ini menandakan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

Likuiditas yang terjaga memberi ruang bagi bank untuk menyalurkan pembiayaan. Kondisi tersebut mendukung aktivitas ekonomi daerah. Perbankan tetap berperan sebagai penggerak utama.

Penyaluran Kredit dan Peran UMKM

Penyaluran kredit perbankan di DIY tumbuh 5,09 persen menjadi Rp65,96 triliun. Pembiayaan masih didominasi oleh sektor rumah tangga. Selain itu, perdagangan besar dan eceran serta konstruksi juga berkontribusi besar.

Sektor rumah tangga menerima kredit sebesar Rp17,5 triliun. Perdagangan besar dan eceran tercatat Rp13,3 triliun. Sementara sektor konstruksi memperoleh Rp9,3 triliun.

Kredit kepada UMKM mencapai Rp28,35 triliun. Pangsa pasar pembiayaan UMKM tercatat sebesar 42,9 persen dari total kredit. “Pada Oktober 2025, kredit atau pembiayaan yang disalurkan kepada UMKM mencapai Rp28,35 triliun dengan pangsa pasar sebesar 42,9 persen dari total kredit atau pembiayaan perbankan,” kata Eko.

Kinerja Keuangan Nonbank dan Fintech

Di sektor industri keuangan nonbank, premi asuransi jiwa tercatat Rp987,8 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan tantangan di subsektor asuransi jiwa.

Sebaliknya, premi asuransi umum menunjukkan pertumbuhan signifikan. Nilainya mencapai Rp1.113 miliar dengan kenaikan tajam secara tahunan. Kinerja ini menjadi penopang sektor asuransi daerah.

Perusahaan pembiayaan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp4,4 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Namun secara tahunan, pembiayaan masih mengalami perlambatan.

Rasio pembiayaan bermasalah mengalami kenaikan. NPF tercatat berada di level 2,97 persen. “Rasio Non Performing Financing mengalami kenaikan menjadi 2,97 persen,” jelas Eko.

Di sisi teknologi finansial, pinjaman P2P lending mencatat pertumbuhan positif. Outstanding pinjaman mencapai Rp1,258 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Kualitas pembiayaan fintech juga menunjukkan perbaikan. Tingkat wanprestasi 90 hari tercatat menurun. “TWP 90 pada Agustus 2025 tercatat sebesar 2,66 persen,” ujarnya.

Perkembangan Pasar Modal Daerah

Aktivitas pasar modal di DIY juga menunjukkan peningkatan. Jumlah investor saham terus bertambah. Partisipasi masyarakat terlihat semakin luas. Jumlah Single Investor Identification saham mencapai 150.030. Angka ini tumbuh signifikan secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan minat investasi yang terus berkembang.

Investor reksa dana juga mengalami pertumbuhan. Jumlah SID reksa dana tercatat 268.040. Pertumbuhan ini menunjukkan diversifikasi minat investasi masyarakat.

SID surat berharga negara turut mencatat kenaikan. Jumlahnya mencapai 23.279. Pertumbuhan ini menandakan meningkatnya minat pada instrumen aman.

Aktivitas transaksi masih didominasi investor individu. Partisipasi ritel menjadi ciri utama pasar modal daerah. “Transaksi pasar modal di DIY hingga Agustus 2025 masih didominasi oleh investor individu,” katanya.

Secara keseluruhan, industri jasa keuangan di DIY menunjukkan daya tahan yang baik. Pertumbuhan berjalan seimbang di berbagai sektor. Kondisi ini menjadi modal penting menghadapi tantangan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index