JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus melanjutkan upaya pembersihan dan penanganan kayu sisa banjir di wilayah Sumatera, dengan fokus pada daerah-daerah yang terdampak parah, seperti Langkahan di Aceh Utara dan beberapa wilayah di Sumatera Utara (Sumut).
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mempercepat pemulihan pascabencana, yang mencakup pembersihan material kayu yang menghambat akses dan pemulihan kehidupan masyarakat setempat.
Pembersihan di Langkahan, Aceh Utara
Salah satu lokasi yang menjadi prioritas pembersihan adalah Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, yang hingga kini masih mengalami hambatan akibat tumpukan kayu yang tersisa setelah banjir.
Kayu-kayu tersebut, yang sebagian besar berasal dari bencana alam, sebagian masih dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, Kemenhut telah mengerahkan tim khusus untuk mengumpulkan dan mengukur kayu yang dapat digunakan kembali. Hasilnya, sebanyak 103 batang kayu, yang diperkirakan setara dengan 93,11 meter kubik, telah dikumpulkan dan siap dimanfaatkan.
Sinergi Tim dalam Penanganan Sisa Bencana
Tim yang terlibat dalam proses pembersihan ini sangat beragam dan terdiri dari berbagai instansi terkait. Tugas tersebut dijalankan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), serta Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), bersama dengan Balai Gakkum Wilayah Sumatera.
Tak hanya itu, Kemenhut juga berkolaborasi dengan tim dari TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), yang turut mengerahkan sejumlah alat berat untuk mempercepat pembersihan.
Sebanyak 23 alat berat diterjunkan dalam upaya ini, yang terdiri dari 21 unit milik Kemenhut, termasuk 10 ekskavator capit, sembilan ekskavator, dan dua buldozer. Selain itu, satu unit ekskavator dan buldozer milik TNI, serta dua ekskavator dari Kementerian PU juga turut berperan dalam mempercepat proses ini.
Sementara itu, tim lain yang terdiri dari sekitar 50 personel juga bertugas membersihkan fasilitas-fasilitas penting, seperti sekolah. Mereka berhasil membersihkan ruang perpustakaan, gudang olahraga, dan empat kamar mandi di SD Negeri 4 Langkahan, sebagai bagian dari upaya pemulihan infrastruktur yang terdampak banjir.
Pemanfaatan Kayu Sisa Banjir
Salah satu keberhasilan dalam penanganan kayu banjir ini adalah upaya pemanfaatannya. Berdasarkan pantauan tim di lapangan, lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat setempat berhasil memanfaatkan sekitar tiga meter kubik kayu yang didapatkan dari pembersihan tersebut, dengan bantuan alat gergaji mesin. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun banyak kayu yang tersisa pasca-banjir, sebagian besar dari mereka masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, estimasi jumlah kayu yang berhasil dimanfaatkan mencapai 18,5 meter kubik, meskipun data ini masih bersifat sementara dan terus diperbarui. Pembersihan dan pemanfaatan kayu ini diharapkan dapat menjadi sumber daya yang berguna bagi masyarakat dalam mempercepat pemulihan ekonomi mereka pasca-bencana.
Pembangunan Hunian Sementara dan Tetap
Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir juga terus berlanjut. Sampai saat ini, tercatat bahwa tiga unit hunian sementara masih dalam tahap pembangunan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut. Selain itu, tim Kemenhut juga tengah bekerja untuk mempersiapkan lokasi untuk pembangunan hunian tetap (huntap) di lahan yang dikelola oleh PTPN.
Di Aceh Tamiang, tim dari BPKH Sumatera Utara bersama tim Manggala Agni terus melanjutkan upaya pembersihan rumah-rumah warga terdampak banjir dari sisa material kayu yang memenuhi lorong-lorong permukiman. Upaya ini merupakan bagian dari proses pemulihan yang lebih besar, di mana pembersihan material banjir menjadi salah satu langkah awal untuk memulihkan kehidupan masyarakat.
Pembersihan di Sumatera Utara
Di Sumatera Utara, tim Kemenhut juga menurunkan ekskavator untuk menyiapkan lokasi hunian tetap di lahan milik PTPN. Selain itu, laporan terbaru mengindikasikan adanya temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe, yang akan dievaluasi untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Pemanfaatan kayu yang terkumpul ini diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat sekaligus mengurangi kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh bencana.
Secara keseluruhan, kegiatan pembersihan ini bukan hanya untuk membersihkan sisa-sisa material bencana, tetapi juga untuk memastikan bahwa kayu yang dapat dimanfaatkan dapat digunakan untuk kebutuhan pembangunan, baik itu untuk membangun rumah sementara bagi para korban maupun untuk keperluan lainnya yang mendukung pemulihan daerah terdampak.
Dengan terus melanjutkan upaya ini, Kemenhut bersama berbagai tim lainnya berharap dapat mempercepat proses pemulihan pascabencana dan memastikan bahwa masyarakat yang terdampak banjir dapat segera kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal.