JAKARTA - Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra hingga Aceh meninggalkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
Banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan anggota keluarga. Dalam menghadapi situasi ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bergerak cepat untuk membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak.
Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dan BUMN dalam pemulihan pasca-bencana yang cepat, aman, dan terukur.
Rosan P. Roeslani, CEO Danantara, menegaskan bahwa target pembangunan Huntara ditetapkan sebanyak 15.000 unit dan diharapkan selesai dalam tiga bulan.
“Kami berkomitmen menghadirkan 15.000 unit Hunian Sementara yang ditargetkan rampung dalam waktu 3 bulan. Alhamdulillah, progres awal berjalan baik, 500 unit hunian insyaallah siap dalam minggu ini,” ungkapnya.
Kolaborasi Lintas Sektoral
Pembangunan Huntara melibatkan kolaborasi intensif antar-kementerian dan lembaga terkait. Rosan menyebut koordinasi dilakukan dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Kementerian Sosial, serta BNPB. Sinergi ini memastikan proses konstruksi berjalan lancar dari perencanaan hingga pengawasan di lapangan.
Selain itu, Kementerian ATR/BPN dilibatkan untuk memastikan legalitas status lahan Huntara. “Sinergi dengan kementerian teknis seperti ATR/BPN juga dilakukan agar status lahan huntara aman secara hukum,” ujar Rosan.
Langkah ini penting untuk mencegah masalah kepemilikan di kemudian hari yang bisa menghambat pembangunan.
Progres Pembangunan Huntara
Hingga akhir Desember 2025, progres pembangunan telah mencapai ratusan unit di atas lahan milik PTPN, sekitar 15 kilometer dari Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Huntara dibangun dengan desain modular, sehingga konstruksi bisa dilakukan cepat tanpa mengorbankan kualitas bangunan.
Setiap unit dilengkapi fasilitas dasar dan sosial, termasuk kamar mandi, dapur umum, dan musala, agar layak huni bagi masyarakat terdampak.
“Pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen Danantara Indonesia dan BUMN untuk membangun total 15.000 unit Hunian Danantara yang layak bagi masyarakat di berbagai wilayah terdampak bencana dalam beberapa bulan ke depan,” tulis manajemen Danantara dalam laporan resmi.
Dukungan BUMN Lain
Program ini juga didukung oleh sejumlah BUMN lain, termasuk PLN, Telkom, dan Himbara, yang menyediakan listrik, konektivitas, dan pendanaan. Keterlibatan berbagai BUMN ini memastikan Huntara tidak hanya cepat dibangun, tetapi juga memiliki fasilitas yang memadai agar nyaman dan aman ditinggali.
Pekerjaan dilakukan oleh tenaga kerja dari berbagai daerah, termasuk tenaga lokal setempat dan pekerja dari Jawa. Bahan baku dikirim dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mempercepat pembangunan dan menjaga standar mutu bangunan.
Dampak Langsung bagi Korban
Hadirnya Huntara memberikan rasa aman dan stabilitas bagi korban bencana. Hunian ini juga menjadi sarana pemulihan psikologis, mengurangi trauma, dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mulai merencanakan kehidupan pasca-bencana.
“Semoga hunian ini segera menghadirkan rasa aman serta harapan baru bagi masyarakat terdampak,” pungkas Rosan. Kehadiran Huntara menjadi simbol nyata kepedulian pemerintah dan BUMN terhadap korban bencana.
Strategi Modular dan Terstandar
Desain modular memudahkan pembangunan Huntara secara cepat dan efisien. Sistem modular memungkinkan penambahan unit secara bertahap tanpa mengurangi kualitas. Setiap unit dirancang dengan ukuran standar, material kuat, dan sistem distribusi air serta listrik yang memadai.
Selain itu, pembangunan Huntara mengedepankan aspek sosial. Ruang publik seperti musala dan dapur umum menciptakan interaksi sosial yang sehat, membantu masyarakat membangun kembali komunitas setelah terdampak bencana.
Pendekatan Berkelanjutan
Danantara menekankan Huntara bukan sekadar hunian sementara, melainkan bagian dari strategi pemulihan jangka panjang. Program ini melibatkan monitoring berkala, koordinasi dengan pemerintah daerah, dan pengawasan fasilitas umum agar tetap layak huni.
Fasilitas pendukung seperti listrik, jaringan komunikasi, dan keamanan lingkungan juga dijaga agar Huntara tetap dapat digunakan selama masyarakat menunggu pembangunan hunian permanen selesai.
Target Realistis dan Tepat Waktu
Dengan target 15.000 unit rampung dalam tiga bulan, Danantara menekankan pentingnya manajemen proyek yang disiplin. Progress mingguan terus dipantau, dan prioritas diberikan pada wilayah paling terdampak.
Laporan mingguan dari tim konstruksi memungkinkan pihak manajemen menyesuaikan strategi bila diperlukan, sehingga target bisa tercapai tepat waktu.
Manfaat Ekonomi Lokal
Pembangunan Huntara juga berdampak positif pada ekonomi lokal. Tenaga kerja lokal dilibatkan dalam pembangunan, sementara pengadaan bahan baku dari berbagai wilayah meningkatkan perputaran ekonomi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembangunan pasca-bencana yang tidak hanya fokus pada rehabilitasi fisik, tetapi juga pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.
Pembangunan 15.000 Huntara oleh Danantara menjadi langkah nyata dalam menangani dampak bencana di Sumatra dan Aceh. Dengan desain modular, fasilitas lengkap, dan dukungan lintas BUMN, program ini mempercepat pemulihan fisik, psikologis, dan ekonomi masyarakat terdampak.
Target rampung tiga bulan menjadi bukti nyata komitmen Danantara dan pemerintah dalam menghadirkan solusi pemulihan bencana yang cepat, terukur, dan berkelanjutan.