JAKARTA - Perbincangan mengenai istilah super flu virus belakangan semakin ramai di tengah masyarakat.
Julukan tersebut kerap disematkan pada Influenza A (H3N2) Subclade K yang kini menjadi perhatian. Meski demikian, istilah super flu bukanlah nama medis atau ilmiah yang diakui secara resmi.
Penyebutan super flu virus muncul dari media dan masyarakat di berbagai negara. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan subvarian influenza A (H3N2) Subclade K yang dinilai memiliki karakteristik berbeda. Perbedaan itulah yang kemudian memicu kekhawatiran publik secara luas.
Subclade K dinilai memiliki pola penyebaran dan dampak klinis yang tidak sepenuhnya sama dengan influenza lainnya. Kondisi ini mendorong perlunya pemahaman yang lebih utuh agar masyarakat tidak salah menafsirkan risiko. Informasi yang tepat menjadi kunci dalam menyikapi fenomena ini secara rasional.
Pola Penyebaran yang Datang Lebih Awal
Salah satu alasan utama munculnya istilah super flu adalah karena waktu kemunculan wabah yang lebih cepat. Influenza A (H3N2) Subclade K cenderung memicu wabah sebelum musim dingin tiba. Biasanya, lonjakan kasus influenza terjadi saat musim dingin telah dimulai.
Pada kondisi normal, wabah flu di negara belahan bumi utara muncul pada akhir Oktober. Namun, Subclade K memicu peningkatan kasus sekitar tiga hingga empat minggu lebih awal. Pola ini dianggap tidak lazim dibandingkan influenza musiman pada umumnya.
“Sekarang, sebelum musim dingin sudah menyebabkan wabah, itu akhirnya disebut super flu,” kata Dicky. Pernyataan tersebut menggambarkan mengapa istilah super flu digunakan secara luas. Wabah yang datang lebih awal ini menjadi salah satu faktor utama kekhawatiran global.
Gejala Lebih Berat pada Kelompok Rentan
Alasan lain julukan super flu virus disematkan karena gejalanya yang lebih kentara. Infeksi Subclade K dapat menimbulkan keluhan yang dirasakan lebih berat. Kondisi ini terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun dan kelompok lanjut usia.
“Flu lebih berat, batuk lebih lama, banyak dahak nyeri saat menelan yang lebih nyeri,” tutur Dicky. Gejala tersebut membuat masa pemulihan menjadi lebih panjang. Pasien sering kali membutuhkan perhatian medis lebih intensif dibanding flu biasa.
Gejala yang berlangsung lama berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada sebagian pasien, keluhan tidak mereda dalam waktu singkat. Inilah yang membuat Subclade K dianggap tidak bisa disamakan dengan influenza musiman ringan.
Risiko Perawatan Rumah Sakit Lebih Tinggi
Subclade K juga dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan perawatan di rumah sakit. Durasi sakit akibat virus ini cenderung lebih lama dibandingkan flu pada umumnya. Rata-rata masa pemulihan dapat mencapai tujuh hingga empat belas hari.
“Rata-rata bisa 7 hari, bisa 7 sampai 14 hari. Itu kenapa disebut super flu virus,” tutur Dicky. Kondisi ini menjadi perhatian serius terutama bagi fasilitas kesehatan. Lonjakan pasien berpotensi menambah beban layanan medis.
Kelompok berisiko tinggi menjadi pihak yang paling rentan mengalami komplikasi. Penderita penyakit penyerta, gangguan imunitas, dan anak kecil dapat mengalami kondisi yang lebih berat. Oleh karena itu, kewaspadaan dan pencegahan menjadi sangat penting.
Penilaian Global dan Situasi di Indonesia
Meskipun disebut super flu, Subclade K dinilai belum sepenuhnya layak menyandang julukan tersebut. Di sisi lain, virus ini juga tidak dapat dianggap sebagai flu biasa. Karakteristiknya berada di antara influenza ringan dan infeksi yang lebih serius.
“Walaupun belum tepat banget disebut super flu karena bukan nama ilmiah atau nama resmi, tapi ya disebut sebagai flu biasa juga tidak bisa untuk subclade K ini.” Pernyataan tersebut menegaskan posisi Subclade K dalam spektrum penyakit influenza. Virus ini memerlukan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan.
Influenza A (H3N2) Subclade K telah teridentifikasi di banyak negara di dunia. Di Indonesia sendiri, kasusnya tercatat tersebar di beberapa provinsi dengan jumlah puluhan kasus. “Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelas Prima.