Rupiah Melemah di Awal 2026, Dipengaruhi Penguatan Dolar AS dan Geopolitik

Senin, 05 Januari 2026 | 10:31:13 WIB
Rupiah Melemah di Awal 2026, Dipengaruhi Penguatan Dolar AS dan Geopolitik

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal tahun 2026 menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. 

Pada hari Senin, 5 Januari 2026, diperkirakan rupiah akan mengalami pelemahan dengan kisaran antara Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pasar global.

Minggu pertama Januari ini, rupiah tercatat melemah 38 poin atau 0,23% di level Rp16.725 per dolar AS. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia. Indeks dolar AS bahkan tercatat menguat sebesar 0,03% di level 98,35, mempertegas dominasi greenback di pasar global.

Pergerakan Mata Uang di Asia

Selain rupiah, mata uang Asia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang terdepresiasi 0,06%, sementara won Korea melemah sedikit sebesar 0,02% terhadap dolar AS. 

Meski begitu, beberapa mata uang seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand mengalami penurunan lebih signifikan, masing-masing melemah 0,05% dan 0,59%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar di Asia lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS. Hal tersebut menyebabkan pergerakan nilai tukar di sejumlah negara cenderung tertekan, meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda. 

Dalam konteks ini, rupiah juga ikut terimbas oleh penguatan greenback yang mendominasi pasar.

Faktor Penguat Dolar AS

Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, penguatan dolar AS didorong oleh hasil risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Desember lalu. Risalah tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan pejabat The Fed tentang kebijakan suku bunga. 

Sebagian pejabat melihat perlunya mempertahankan suku bunga setelah tiga kali pemotongan tahun lalu, sementara yang lainnya berpendapat bahwa ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, tetapi hanya jika inflasi terus menurun.

Selain kebijakan moneter AS, penguatan dolar juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang semakin memanas di berbagai belahan dunia. 

Konflik antara Rusia dan Ukraina, serta ketegangan antara AS dan negara-negara seperti Iran dan Venezuela, turut mendongkrak permintaan akan dolar AS sebagai aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global. Keadaan ini memicu penguatan greenback yang berimbas pada melemahnya mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Tantangan Ekonomi Global dan Dampaknya pada Rupiah

Situasi ekonomi global yang semakin tidak stabil juga turut memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Ketegangan yang terjadi di Eropa Timur dan Timur Tengah menambah ketidakpastian pasar. 

Di Eropa Timur, serangan yang terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina masih menyita perhatian dunia meskipun ada upaya mediasi dari berbagai pihak, termasuk Presiden AS.

Di Amerika Latin, sanksi baru yang dijatuhkan oleh Washington terhadap sektor minyak Venezuela memperburuk kondisi ekonomi kawasan tersebut. 

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah kian meningkat setelah Iran menyatakan potensi perang skala penuh dengan AS dan sekutunya. Semua faktor ini berkontribusi pada penguatan dolar AS sebagai mata uang cadangan global yang aman di tengah gejolak politik dan ekonomi.

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah untuk Senin, 5 Januari 2026

Untuk perdagangan hari ini, Senin, 5 Januari 2026, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. 

Dolar AS diprediksi akan tetap mendominasi pasar dengan kisaran pergerakan rupiah antara Rp16.720 hingga Rp16.750 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada potensi fluktuasi, rupiah kemungkinan akan tetap tertekan oleh penguatan dolar.

Fluktuasi nilai tukar rupiah ini menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Terutama bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor, perubahan nilai tukar dapat mempengaruhi biaya produksi dan daya beli masyarakat. 

Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan kondisi ini dengan bijak untuk meminimalkan dampaknya terhadap kestabilan ekonomi domestik.

Upaya Pemerintah Menghadapi Fluktuasi Nilai Tukar

Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah dengan cermat. 

Berbagai kebijakan dan langkah-langkah stabilisasi ekonomi diterapkan untuk menjaga agar rupiah tetap berada dalam kisaran yang wajar. Meskipun fluktuasi tetap ada, upaya untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berhasil memperbaiki kinerja perekonomian domestik, meskipun ada tantangan dari sisi eksternal. Melalui kebijakan yang tepat, Indonesia mampu bertahan dari guncangan ekonomi global yang berpotensi merugikan. 

Pemulihan ekonomi global yang stabil juga diprediksi akan memberikan pengaruh positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Perspektif Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kestabilan nilai tukar. 

Pada 2026, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia diharapkan dapat terus memperkuat sektor-sektor ekonomi yang menjadi andalan, seperti sektor pertanian, industri, dan sektor jasa.

Penting bagi Indonesia untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap solid meski dunia tengah menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan ekonomi.

Ketidakpastian global yang terjadi saat ini dapat menjadi peluang untuk Indonesia meningkatkan daya saing di pasar internasional, dengan memanfaatkan potensi pasar domestik yang besar. Dengan langkah yang tepat, Indonesia bisa menghadapi fluktuasi nilai tukar dan memastikan ekonomi tetap stabil dan berkembang.

Terkini