PAJAK

Cadangan Devisa Indonesia Naik Ditopang Pajak Utang Pemerintah

Cadangan Devisa Indonesia Naik Ditopang Pajak Utang Pemerintah
Cadangan Devisa Indonesia Naik Ditopang Pajak Utang Pemerintah

JAKARTA - Ketahanan sektor eksternal Indonesia kembali menunjukkan penguatan menjelang penutupan tahun. Aliran masuk devisa dari berbagai sumber strategis berhasil mempertebal bantalan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan. 

Bank Indonesia menilai kondisi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan ke depan.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 mencapai US$ 156,5 miliar atau setara Rp 2.628 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.795 per dolar Amerika Serikat. 

Posisi tersebut meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 150,1 miliar. Kenaikan ini mencerminkan optimalnya pengelolaan fiskal dan pembiayaan pemerintah sepanjang akhir tahun.

Dorongan Penerimaan Negara Perkuat Devisa

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kenaikan cadangan devisa terutama didorong oleh sejumlah sumber penerimaan negara. 

Di antaranya berasal dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 sebesar US$ 156,5 miliar, meningkat dibandingkan posisi pada akhir November 2025 sebesar US$ 150,1 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah,” ujar Denny.

Penerimaan pajak dan jasa yang masuk ke kas negara memberikan kontribusi penting dalam memperkuat likuiditas devisa. Selain itu, keberhasilan pemerintah menerbitkan sukuk global turut mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap kredibilitas fiskal Indonesia. 

Di sisi lain, penarikan pinjaman pemerintah dilakukan secara terukur untuk mendukung pembiayaan program prioritas tanpa mengganggu stabilitas eksternal.

Cadangan Devisa Jauh Di Atas Standar Aman

Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 berada pada level yang sangat memadai. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran tiga bulan impor. Menurut Denny, posisi cadangan devisa yang kuat ini menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia. 

Dengan cadangan devisa yang memadai, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk meredam gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar, tekanan pasar keuangan global, maupun ketidakpastian ekonomi internasional.

“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tutur Denny.

Stabilitas ini menjadi krusial, terutama dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian nasional. Cadangan devisa yang kuat juga memberikan keyakinan bahwa Indonesia mampu memenuhi kewajiban impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah secara tepat waktu.

Aliran Modal Asing Masih Menjanjikan

Ke depan, Bank Indonesia memandang ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap berada dalam kondisi yang baik. Hal ini tidak hanya ditopang oleh posisi cadangan devisa yang memadai, tetapi juga oleh prospek aliran masuk modal asing yang diperkirakan terus berlanjut.

BI menilai persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional masih terjaga. Imbal hasil investasi di Indonesia yang relatif menarik dibandingkan negara lain menjadi salah satu faktor pendorong minat investor asing untuk tetap menanamkan modalnya di pasar keuangan domestik.

Selain itu, stabilitas makroekonomi yang terjaga, inflasi yang terkendali, serta kebijakan moneter dan fiskal yang kredibel turut memperkuat daya tarik Indonesia di mata investor global. 

Kondisi ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan aliran modal masuk, sekaligus mendukung penguatan cadangan devisa ke depan.

Sinergi Kebijakan Jaga Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian. Koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.

“BI terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” imbuh Denny.

Sinergi tersebut mencakup pengelolaan devisa yang prudent, kebijakan pembiayaan yang terukur, serta upaya menjaga kepercayaan pasar. 

Dengan kolaborasi yang solid, Bank Indonesia optimistis stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional dapat terus terjaga, sekaligus mendukung agenda pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Peningkatan cadangan devisa pada akhir 2025 menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Dengan bantalan eksternal yang kokoh, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan global sekaligus memanfaatkan peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index