JAKARTA - Jejak sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan kembali mendapat sorotan melalui rencana pembangunan Museum Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town.
Inisiatif ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya memperkuat ingatan kolektif atas peran besar tokoh asal Makassar tersebut dalam penyebaran Islam dan pembentukan komunitas diaspora Indonesia di Afrika Selatan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan menilai bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki nilai historis dan kultural yang melampaui batas geografis.
Keberadaannya di Cape Town pada masa pengasingan justru meninggalkan pengaruh besar yang masih terasa hingga kini, terutama di kalangan komunitas Cape Malay.
Karena itu, rencana pendirian museum dinilai menjadi langkah strategis untuk merawat warisan sejarah sekaligus mempererat hubungan budaya antarnegara.
Museum Sebagai Peringatan Empat Abad Syekh Yusuf
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa pembangunan Museum Syekh Yusuf Al-Makassari diharapkan dapat dimulai pada tahun ini. Proyek tersebut direncanakan bertepatan dengan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari.
"Mudah-mudahan bisa mulai kita mulai di tahun ini dan bertepatan dengan 400 tahun Syekh Yusuf," kata Fadli.
Menurut Fadli, langkah awal pembangunan museum akan dimulai dengan proses perancangan desain bangunan. Tahap ini dinilai krusial karena museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer sejarah, tetapi juga sebagai simbol pertemuan dua budaya yang memiliki keterkaitan historis.
Peringatan empat abad kelahiran Syekh Yusuf menjadi momentum penting untuk kembali mengangkat peran tokoh tersebut dalam sejarah Islam global dan hubungan Indonesia-Afrika Selatan. Pemerintah berharap museum ini dapat menjadi pusat edukasi bagi masyarakat internasional mengenai kontribusi Syekh Yusuf Al-Makassari.
Akulturasi Arsitektur Makassar Dan Afrika
Dalam perancangannya, bangunan museum direncanakan mengusung konsep akulturasi budaya. Arsitektur Makassar dari Sulawesi Selatan akan dipadukan dengan unsur arsitektur Afrika, mencerminkan perjalanan hidup Syekh Yusuf yang melintasi dua wilayah tersebut.
"Jadi kita akan buat konkret dan desainnya itu bayangan kita adalah akulturasi antara mungkin arsitektur Makassar ya, Sulawesi Selatan dengan arsitektur Afrika," paparnya.
Konsep ini diharapkan mampu merepresentasikan identitas lintas budaya yang melekat pada sosok Syekh Yusuf. Perpaduan arsitektur tersebut juga menjadi simbol hubungan historis antara Indonesia dan Afrika Selatan yang terjalin sejak ratusan tahun lalu.
Fadli menegaskan bahwa museum ini tidak hanya berdiri sebagai bangunan statis, melainkan sebagai ruang hidup yang merekam perjalanan sejarah, nilai spiritual, dan interaksi budaya yang berkembang di Cape Town.
Rumah Budaya Indonesia Di Cape Town
Lebih dari sekadar museum, bangunan tersebut juga direncanakan berfungsi sebagai Rumah Budaya Indonesia di Cape Town. Fadli menyebut bahwa lokasi ini nantinya akan dikenal sebagai Syekh Yusuf Cultural Center.
"Jadi di sana akan kita buat Rumah Budaya Indonesia, tapi juga Syekh Yusuf Cultural Center," ucapnya.
Fasilitas yang disiapkan di dalamnya mencakup ruang pertemuan, area pameran, hingga tempat untuk memperkenalkan kuliner Indonesia. Dengan konsep tersebut, pusat budaya ini diharapkan menjadi etalase kebudayaan Indonesia di Afrika Selatan.
"Syekh Yusuf Cultural Center ini bisa menjadi sebuah etalase, museum, tempat pertemuan, termasuk ada memperkenalkan kuliner Indonesia dan lain-lain. Jadi ini akan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri," tuturnya.
Kementerian Kebudayaan akan menjalin kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri untuk merealisasikan proyek ini, mengingat lokasinya berada di luar negeri dan berkaitan langsung dengan diplomasi budaya Indonesia.
Jejak Syekh Yusuf Dan Diaspora Cape Malay
Fadli Zon menekankan bahwa peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf memiliki makna historis yang mendalam. Syekh Yusuf dikenal sebagai tokoh yang dibuang ke Cape Town pada masa kolonial, namun justru memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.
"Syekh Yusuf ini adalah seorang tokoh yang dibuang ke Cape Town dan di sana kemudian menyebarkan Islam di Cape Town dan juga menjadi salah satu simbol berkembangnya diaspora keturunan Indonesia di Cape Town yang disebut sebagai Cape Malay," jelas dia.
Komunitas Cape Malay hingga kini menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Afrika Selatan. Menurut Fadli, jumlah keturunan Indonesia di Afrika Selatan terus berkembang dan mencapai angka yang signifikan.
"Menurut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan, keturunan Indonesia yang ada di Afrika Selatan itu jumlahnya sekitar sekarang ini 2,7 juta," terangnya.
Keberadaan museum dan pusat budaya diharapkan dapat menjadi ruang refleksi atas sejarah panjang diaspora Indonesia di Afrika Selatan. Selain itu, proyek ini juga menjadi sarana memperkenalkan kembali peran Syekh Yusuf Al-Makassari kepada generasi muda, baik di Indonesia maupun di Afrika Selatan.
Melalui pembangunan museum ini, pemerintah Indonesia ingin memastikan bahwa jejak sejarah tokoh bangsa yang berpengaruh di kancah global tetap terjaga dan relevan.
Lebih jauh, inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat hubungan diplomatik dan kebudayaan antara Indonesia dan Afrika Selatan melalui pendekatan sejarah dan identitas bersama.