Pascabencana

Aktivitas Warga Tapanuli Selatan Bangkit Perlahan Pascabencana

Aktivitas Warga Tapanuli Selatan Bangkit Perlahan Pascabencana
Aktivitas Warga Tapanuli Selatan Bangkit Perlahan Pascabencana

JAKARTA - Satu bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, denyut kehidupan warga perlahan kembali terasa.

 Di tengah keterbatasan yang masih membayangi, masyarakat terdampak mulai berupaya menata ulang kehidupan mereka, meski harus berhadapan dengan kenyataan pahit kehilangan rumah, keluarga, dan mata pencaharian.

Bencana alam yang terjadi pada akhir tahun lalu meninggalkan luka mendalam, khususnya bagi warga Desa Garoga dan Desa Huta Godang. 

Kerusakan infrastruktur, hunian, hingga fasilitas umum membuat proses pemulihan tidak mudah. Namun, di balik puing-puing dan tenda pengungsian, semangat warga untuk bangkit terus tumbuh.

Kondisi Warga Pascabencana Masih Penuh Tantangan

Dampak banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Selatan tercatat sangat masif. Berdasarkan data terkini, sebanyak 88 orang meninggal dunia, ribuan warga terpaksa mengungsi, dan banyak rumah warga hancur tersapu banjir hingga rata dengan tanah.

Hingga saat ini, sebagian besar warga masih bertahan di posko-posko pengungsian yang didirikan sebagai solusi darurat. Sementara itu, sebagian lainnya mulai menyewa rumah kontrakan untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak, meski harus menyesuaikan dengan keterbatasan ekonomi.

Kondisi di posko pengungsian masih menghadirkan berbagai risiko, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Minimnya fasilitas pendukung membuat kesehatan pengungsi menjadi perhatian utama, terlebih di tengah kondisi cuaca dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.

Suara Warga Di Tengah Kehilangan Tempat Tinggal

Kisah para penyintas mencerminkan beratnya beban yang harus ditanggung warga pascabencana. Hertika, warga Desa Huta Godang, menjadi salah satu dari banyak korban yang kehilangan rumah akibat terjangan banjir bandang.

"Rumah saya sudah hanyut, hancur, tidak ada apa-apanya lagi. Saat ini yang kami butuhkan adalah hunian yang layak. Di posko pengungsian, risiko kesehatan meningkat, banyak anak-anak mulai sakit dan gangguan nyamuk," ungkap Hertika.

Ungkapan tersebut menggambarkan kebutuhan mendesak masyarakat akan tempat tinggal yang aman dan layak. Bagi warga, hunian bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang untuk memulihkan kondisi psikologis dan membangun kembali kehidupan keluarga.

Keterbatasan fasilitas di posko juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari warga, termasuk upaya mereka untuk kembali bekerja atau mencari penghasilan. Meski demikian, semangat bertahan dan saling menguatkan antarwarga tetap terlihat di tengah situasi sulit.

Upaya Pemerintah Membantu Pemulihan Warga

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan telah mengambil langkah darurat untuk meringankan beban masyarakat terdampak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian bantuan dana sewa hunian sebesar Rp600.000 per Kartu Keluarga.

Bantuan tersebut diberikan selama tiga bulan agar warga dapat menyewa tempat tinggal sementara yang lebih layak dibandingkan posko pengungsian. Hingga kini, bantuan telah disalurkan kepada 1.442 keluarga terdampak bencana.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan dan memberikan rasa aman bagi warga, sembari menunggu solusi hunian jangka menengah dan panjang. Pemerintah daerah juga terus melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Selain sektor perumahan, perhatian juga diberikan pada pemulihan aktivitas pendidikan. Anak-anak di wilayah terdampak telah mulai kembali bersekolah sejak 5 Januari kemarin untuk memulai semester baru, meski dengan segala keterbatasan.

Pendidikan Dan Rekonstruksi Jadi Fokus Lanjutan

Kerusakan gedung sekolah akibat bencana memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan di tenda-tenda darurat. Kondisi ini dialami, salah satunya, oleh PAUD Bunda Lestari di Desa Garoga. Meski jauh dari ideal, proses pembelajaran tetap dijalankan agar anak-anak tidak kehilangan hak pendidikan.

Untuk mendukung keberlangsungan pendidikan, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan berupa seragam dan alat tulis bagi para siswa. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban orang tua sekaligus memotivasi anak-anak untuk terus belajar di tengah kondisi darurat.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan juga tengah melakukan finalisasi Rencana Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pascabencana. Penyediaan Hunian Tetap masih dalam tahap pencarian lahan yang strategis dan aman dari risiko bencana di masa depan.

Selain Hunian Tetap, pemerintah juga menyiapkan Hunian Sementara di beberapa titik lokasi. Saat ini, proses pemerataan tanah masih berlangsung, dengan dukungan alat-alat berat yang disiagakan di lapangan.

Pembersihan puing-puing bangunan dan perbaikan akses jalan terus dilakukan agar mobilitas warga kembali lancar. Upaya ini menjadi bagian penting dari pemulihan menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik wilayah, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Di tengah segala keterbatasan, kebangkitan aktivitas warga Tapanuli Selatan menjadi tanda bahwa proses pemulihan telah dimulai. Meski jalan menuju kondisi normal masih panjang, semangat masyarakat dan dukungan pemerintah menjadi modal utama untuk bangkit dari bencana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index