JAKARTA - Wacana pengambilalihan cadangan minyak Venezuela oleh Amerika Serikat memunculkan perhatian besar di pasar energi global.
Isu ini mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan niat menguasai sektor minyak negara tersebut. Kondisi ini langsung memicu spekulasi terkait arah pergerakan harga minyak dunia.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut.
Pasar menilai langkah Amerika Serikat berpotensi mengubah keseimbangan pasokan minyak global. Meski demikian, dampak langsung terhadap harga minyak masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat.
Direktur Riset Bright Institute Muhammad Andri Perdana menilai pernyataan Trump dapat diartikan sebagai upaya membanjiri pasokan minyak dunia. Strategi tersebut secara teori berpotensi menekan harga minyak global. Namun, realisasi rencana itu dinilai tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat.
Tantangan Pengelolaan Cadangan Minyak Venezuela
Cadangan minyak Venezuela dikenal sangat besar, namun didominasi oleh heavy oil yang belum terolah. Jenis minyak ini membutuhkan teknologi dan infrastruktur khusus untuk dapat diproduksi secara optimal. Proses pengembangannya diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.
Andri menjelaskan bahwa meskipun Trump mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat, hambatan teknis tetap signifikan. Pembangunan kembali industri minyak Venezuela tidak bisa dilakukan secara instan. Oleh karena itu, dampak terhadap stok minyak dunia dalam jangka pendek masih belum pasti.
“Rezim dan loyalis Maduro saat ini pun masih melakukan resistensi terhadap agresi AS, sehingga akan sulit untuk memastikan dampaknya ke stok minyak dunia,” jelasnya. Kondisi politik domestik Venezuela menjadi faktor penghambat tambahan. Ketidakpastian ini membuat pasar global bersikap hati-hati.
Sikap Pasar yang Masih Menunggu Arah
Menurut Andri, pasar energi global cenderung mengambil posisi menunggu perkembangan lebih lanjut. Investor dan pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari kehati-hatian pasar menjelang pergerakan kontrak berjangka minyak.
Ia menyebut masih banyak skenario yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Salah satunya adalah kemungkinan Amerika Serikat menghentikan agresi jika loyalis Maduro tetap mempertahankan kekuasaan. Skenario lainnya adalah berlanjutnya tekanan politik yang berpotensi memicu konflik berkepanjangan.
“Masih banyak kemungkinan bisa terjadi, seperti apakah AS tidak akan melanjutkan agresi atau justru terus menekan,” ucap Andri. Situasi ini membuat pelaku pasar sulit mengambil keputusan pasti. Ketidakpastian politik menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga minyak jangka pendek.
Dampak Terhadap Pasokan Minyak Global
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai penangkapan Maduro tidak otomatis mengganggu pasokan minyak global. Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksinya saat ini relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh sanksi internasional dan keterbatasan investasi.
Rizal menjelaskan bahwa harga minyak dunia lebih dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan global. Selain itu, kebijakan produksi negara-negara produsen utama juga memegang peran penting. Faktor Venezuela saja dinilai tidak cukup kuat memicu lonjakan harga yang tajam.
“Penangkapan Maduro tidak otomatis mengganggu pasokan minyak global,” ungkap Rizal. Menurutnya, kondisi ekonomi global juga turut menentukan pergerakan harga. Oleh karena itu, risiko lonjakan harga akibat faktor Venezuela dinilai relatif kecil.
Risiko Psikologis dan Geopolitik Pasar
Meski pasokan riil tidak terganggu, Rizal menilai faktor psikologis pasar tetap perlu diperhitungkan. Penangkapan Maduro berpotensi meningkatkan persepsi risiko geopolitik. Hal ini dapat memicu kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan tersebut lebih mencerminkan ketidakpastian pasar dibanding gangguan pasokan nyata. Fluktuasi harga dipicu oleh sentimen dan spekulasi pelaku pasar. Kondisi ini lazim terjadi dalam situasi geopolitik yang belum jelas arahnya.
Dalam jangka menengah, Rizal justru melihat potensi tambahan pasokan global. Jika rencana Trump terealisasi, tekanan kenaikan harga minyak dapat tertahan. Dampak positifnya adalah berkurangnya risiko inflasi impor bagi negara-negara pengimpor minyak.
Pernyataan Trump dan Arah Kebijakan Energi
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Ia juga berencana mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat untuk berinvestasi besar-besaran. Tujuannya adalah memperbaiki industri minyak Venezuela yang dinilai rusak parah.
Trump menyebut Amerika Serikat akan mengoperasikan pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Langkah ini dilakukan setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Pernyataan tersebut mempertegas ambisi Amerika Serikat dalam sektor energi Venezuela.
“Kami akan membawa perusahaan minyak besar Amerika Serikat untuk masuk dan memperbaiki infrastruktur minyak,” kata Trump. Pernyataan ini langsung menjadi sorotan pasar global. Namun, dampak harga belum terlihat karena perdagangan minyak berjangka tidak berlangsung pada akhir pekan.